Dilantik Pimpin KKLR Papua Barat Daya, Brury: Jabatan adalah Amanah, Bukan Kebanggaan

SORONG — Kehidupan di tanah rantau tidak hanya tentang menjaga hubungan dengan daerah asal, tetapi juga bagaimana membangun ruang kebersamaan dengan masyarakat tempat tinggal. Semangat itulah yang menjadi pesan utama dalam pelantikan Badan Pengurus Wilayah Kerukunan Keluarga Luwu Raya (BPW-KKLR) Papua Barat Daya periode 2025-2030.

Pelantikan berlangsung di Sorong Cafe, Kota Sorong, Papua Barat Daya, Sabtu (19/9/2026). Pengukuhan dipimpin langsung Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Luwu Raya (BPP-KKLR), H. Arsyad Kasmar, melalui konferensi video dan disaksikan jajaran BPW KKLR dari berbagai daerah.

Ketua Umum BPP KKLR H Arsyad Kasmar saat melantik BPW KKLR Papua Barat Daya secara live conference
Ketua Umum BPP KKLR H Arsyad Kasmar didampingi Sekjen KKLR H Jaya Lupu, saat melantik BPW KKLR Papua Barat Daya secara live conference, Sabtu (19/9/2026)

Brury, S.H., yang dipercaya memimpin BPW-KKLR Papua Barat Daya, menegaskan bahwa pelantikan tersebut bukan sekadar agenda organisasi. Kepengurusan baru membawa amanah untuk menjaga persaudaraan Wija To Luwu sekaligus membangun kontribusi nyata di daerah tempat mereka hidup dan berkarya.

“Keluarga besar Luwu Raya yang berada di Papua Barat Daya merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Papua Barat Daya. Kita datang dari berbagai latar belakang yang berbeda, namun dipersatukan oleh satu ikatan kekeluargaan, dengan semangat sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge,” ujar Brury.

Menurutnya, nilai tersebut harus menjadi pedoman dalam menjalankan organisasi. Persaudaraan tidak cukup diwujudkan melalui pertemuan dan kegiatan internal, tetapi juga melalui sikap saling menghargai, mengingatkan, dan membantu dalam kehidupan sehari-hari.

Bukan Sekadar Organisasi Seremonial

Brury menyadari tugas kepengurusan KKLR bukan perkara ringan. Karena itu, ia mengajak seluruh keluarga besar Luwu Raya di Papua Barat Daya membangun organisasi yang solid, terbuka, dan mampu bersinergi dengan berbagai unsur masyarakat.

Hubungan harmonis dengan pemerintah daerah, TNI-Polri, serta masyarakat menjadi bagian penting dari komitmen tersebut.

“Sebagai pengurus BPW KKLR, kami menyadari bahwa tugas yang diemban bukanlah tugas yang ringan. Oleh karena itu, kami mengajak seluruh keluarga besar Luwu Raya bersama-sama membangun organisasi yang solid, terbuka dan bersinergi dengan masyarakat,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa organisasi paguyuban harus hadir ketika anggotanya membutuhkan dukungan.

KKLR, kata Brury, tidak boleh hanya terlihat ketika ada kegiatan pelantikan, pertemuan, atau agenda seremonial lainnya. Keberadaan organisasi harus dapat dirasakan melalui kepedulian dan kebersamaan.

“KKLR hadir bukan hanya ketika ada kegiatan organisasi, tetapi menjadi bagian dari solusi kala masyarakat membutuhkan dukungan, kebersamaan, dan kepedulian,” ujarnya.

Karena itu, ia meminta seluruh pengurus memandang jabatan sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan, bukan sekadar posisi atau kebanggaan organisasi.

Pelantikan BPW KKLR Papua Barat Daya

Berbeda Latar Belakang, Satu Tujuan

Brury juga mengingatkan bahwa perbedaan pandangan maupun latar belakang merupakan sesuatu yang wajar dalam sebuah organisasi. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh berkembang menjadi sekat yang merusak persaudaraan.

“Mari kita bekerja dengan hati, menjaga kekompakan, mengutamakan kepentingan bersama, dan menghindari hal-hal yang dapat memecah persaudaraan. Kita boleh berbeda pendapat, tetapi jangan sampai perbedaan tersebut menghilangkan rasa kekeluargaan,” tuturnya.

Menurut Brury, keluarga besar Luwu Raya di Papua Barat Daya memiliki latar belakang yang beragam. Karena itu, kekuatan KKLR justru terletak pada kemampuan menyatukan keragaman tersebut dalam tujuan bersama.

“Tujuan kita harus tetap sama, yaitu mempererat persaudaraan dan memberikan kontribusi positif bagi daerah tempat kita hidup saat ini,” katanya.

Komitmen itu sekaligus menempatkan identitas Wija To Luwu dalam konteks yang lebih luas. Warga Luwu Raya tetap menjaga akar budaya dan persaudaraan, tetapi pada saat yang sama menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Papua Barat Daya.

Pelantikan BPW KKLR Papua Barat Daya

Siap Bersinergi dengan Pemerintah dan Masyarakat

Brury menegaskan keluarga besar KKLR siap menjadi mitra pemerintah dan masyarakat Papua Barat Daya dalam menjaga persatuan, kedamaian, serta mendukung pembangunan sesuai kapasitas yang dimiliki.

“Mari jadikan momentum pelantikan ini sebagai awal dari langkah bersama untuk membangun KKLR yang semakin solid, keluarga Luwu Raya yang semakin kompak, dan Papua Barat Daya yang semakin maju, aman, damai, dan sejahtera,” tegasnya.

Komitmen tersebut mendapat perhatian dari Ketua BPW Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Papua Barat Daya, Ir. H. Muhammad Said, S.T., IPM., M.Pd.

Ia mengingatkan bahwa KKLR merupakan salah satu dari 12 pilar yang berada di bawah naungan BPW KKSS Papua Barat Daya. Karena itu, kebersamaan antarpaguyuban perlu terus dijaga agar tidak terjadi kesalahpahaman yang justru dapat merugikan masyarakat perantauan.

Menurut Muhammad Said, kehidupan di tanah rantau menuntut setiap komunitas untuk mampu membangun hubungan baik dengan berbagai kelompok masyarakat.

“Di tanah rantau bukan hanya kita yang hidup sendiri, namun ada orang lain. Bahkan beragam suku ada di tanah Papua ini, khususnya di Papua Barat Daya. Untuk itu saya menekankan selalu mengedepankan seperti pepatah, ‘di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’,” ujarnya.

Pelantikan BPW KKLR Papua Barat Daya

Ia mendorong KKLR Papua Barat Daya membangun kebersamaan dan memperkuat sinergi dengan pemerintah maupun masyarakat, termasuk dalam mendorong aktivitas yang dapat meningkatkan perekonomian daerah.

Pelantikan kepengurusan BPW-KKLR Papua Barat Daya periode 2025-2030 dengan demikian tidak hanya menjadi penanda terbentuknya struktur organisasi baru.

Lebih jauh, momentum tersebut menjadi penegasan bahwa warga Luwu Raya di Papua Barat Daya ingin menjaga akar persaudaraan sekaligus mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat di tanah rantau.

Identitas sebagai Wija To Luwu menjadi fondasi kebersamaan. Sementara kontribusi kepada Papua Barat Daya menjadi bentuk nyata bagaimana persaudaraan itu diterjemahkan dalam kehidupan sosial. (*)