PADA awal abad ke-18, lima bersaudara putra bangsawan Luwu menjadi pemain politik penting di Johor-Riau, Selangor, Kedah, dan Kalimantan Barat. Mereka adalah Opu Daeng Parani, Daeng Menambun, Daeng Marewah, Daeng Cellak, dan Daeng Kemasi. Dalam sumber Melayu mereka dikenal sebagai Opu Daeng Lima Bersaudara.
Puncak pengaruh mereka datang pada 1722. Sultan Sulaiman Badrul Alam Shah menciptakan jabatan Yang Dipertuan Muda Riau bagi mereka dan keturunannya, setelah mereka membantunya mengalahkan Raja Kecil dan memulihkan takhta Johor. Jabatan itu diwariskan di kalangan keturunan Bugis hingga dihapus pada 1899.
Karena itu kisah ini tidak cukup dibaca sebagai cerita “orang Sulawesi yang merantau”. Ini kisah diaspora bangsawan yang membawa jaringan, keberanian, dan diplomasinya ke seberang, lalu ikut menentukan peta kekuasaan Melayu.
Putra Bangsawan Luwu
Kelimanya merupakan putra Opu Tendriburang Daeng Rilaka (juga ditulis Daeng Relekek atau Daeng Rilakka) dan Opu Tenribong. Urutannya adalah Daeng Parani sulung, lalu Daeng Menambun, Daeng Marewah, Daeng Cellak, dan Daeng Kemasi sebagai bungsu.
Kakek mereka disebut Raja Opu La Maddusila, juga ditulis La Maddusalat, penguasa Luwu. Garis keturunan Selangor yang bermula dari Daeng Cellak mencatatnya sebagai Raja Luwu ke-19.
Gelar “Opu” menandai kedudukan bangsawan tinggi Luwu. Keterkaitan dengan bangsawan Wajo disebut sebagian tradisi genealogi, tetapi belum terkonfirmasi dalam sumber yang saya telusuri.
Alasan mereka meninggalkan Sulawesi Selatan diceritakan berbeda-beda:
- Setelah La Maddusalat wafat, Daeng Rilaka dan putra-putranya berangkat dari Luwu menuju Siantan, lalu Johor, Melaka, dan Kamboja.
- Kajian Perada mengaitkan migrasi Bugis dengan pascaperang Makassar melawan VOC, ketika sebagian bangsawan enggan hidup di bawah kendali VOC.
- Sebuah versi lain menyebut Parani pernah membunuh seorang pangeran Makassar sehingga keluarganya terpaksa pindah. Ini kisah tradisi, bukan fakta yang teruji.
Karena sumbernya beragam, narasi sebaiknya tidak menyatakan satu sebab tunggal.
Passompe dan Panggung Politik Johor-Riau
Bagi orang Bugis, merantau adalah tradisi yang utuh. Kata sompe berarti berlayar sekaligus merantau: mencari pengalaman, penghidupan, dan kehidupan baru di daerah lain. Kelima Opu datang pada saat yang tepat.
Johor-Riau sedang goyah setelah Sultan Mahmud Shah II terbunuh pada 1699 dalam peristiwa yang dikenal sebagai Tragedi Seulas Nangka. Pembunuhan itu mengakhiri garis keturunan raja lama dan membuka perebutan takhta. Bendahara naik sebagai Sultan Abdul Jalil IV, lalu muncul Raja Kecil dari Minangkabau yang mengaku pewaris sah.
Rangkaian peristiwa berikutnya:
- Daeng Parani semula bersedia membantu Raja Kecil menggulingkan Abdul Jalil IV.
- Pada 1717 Raja Kecil menyerang Riau tanpa Parani dan merebut takhta.
- Putra Abdul Jalil IV, Sulaiman Badrul Alam Shah, meminta bantuan Parani dan pasukan Bugisnya.
- Dengan bantuan Bugis, Sulaiman menang pada 1722 dan merebut kembali Johor-Riau-Lingga-Pahang.
Sebagai imbalan, pada 4 Oktober 1722 Daeng Marewah diangkat menjadi Yang Dipertuan Muda Riau pertama. Kesepakatan ini terkenal sebagai “Sumpah Setia”: sultan Melayu memegang jabatan Yang Dipertuan Besar, keturunan Bugis memegang Yang Dipertuan Muda.
Dengan begitu mereka bukan sekadar pembantu perang, melainkan pemegang kekuasaan yang dilembagakan.
Kiprah Masing-Masing di Negeri Seberang
Kelima Opu menyebar ke empat kawasan, mulai dari Johor-Riau, Kedah, Kalimantan Barat, dan (lewat keturunan Daeng Cellak) Selangor.
| Opu | Wilayah | Peran | Ikatan Perkawinan |
| Daeng Parani | Johor-Riau, Kedah | Panglima Bugis yang membantu Sulaiman merebut takhta; gugur sekitar 1726 di Kedah | Tengku Tengah, putri Sultan Abdul Jalil IV |
| Daeng Menambun | Matan, Mempawah (Kalimantan Barat) | Penguasa Mempawah dengan gelar Pangeran Mas Surya Negara; wafat 1763 | Ratu Kesumba, putri Sultan Muhammad Zainuddin dari Matan |
| Daeng Marewah | Riau-Johor | Yang Dipertuan Muda Riau I, 1722–1728 | tidak dicatat dalam sumber yang dibaca |
| Daeng Cellak | Riau-Johor, Selangor | Yang Dipertuan Muda Riau II, 1728–1745; menjadikan Riau pelabuhan dagang yang ramai | Tengku Mandak, saudari Sultan Sulaiman |
| Daeng Kemasi | Sambas (Kalimantan Barat) | Bergelar Pangeran Mangkubumi; wafat di Sambas | Raden Tengah, adik Sultan Umar Aqamuddin I |
Beberapa catatan penting:
- Parani wafat dalam perang di Kedah dan dimakamkan oleh saudara-saudaranya. Pengaruhnya di Selangor tidak tercatat langsung dalam sumber yang ditelusuri; yang membangun fondasi Bugis di Selangor adalah putra Daeng Cellak, Raja Lumu.
- Menambun tiba dari Matan sekitar 1737–1741 (sumber berbeda tahun) dan dikenang setiap tahun lewat tradisi Robo-Robo di Mempawah. Makamnya di Bukit Rama, Mempawah Hilir, hingga kini menjadi tempat ziarah.
- Marewah wafat 7 Agustus 1728 dan dimakamkan di Sungai Baru, Riau.
- Cellak menggantikan Marewah sebagai Yang Dipertuan Muda. Dengan demikian, ia Yang Dipertuan Muda kedua, bukan ketiga seperti tertulis di naskah awal.
- Kemasi bukan sekadar “terlibat”: ia menetap di Sambas, menikah dengan keluarga sultan, dan diberi gelar Mangkubumi. Kajian Khatulistiwa menyebut keturunannya melahirkan raja-raja Sambas.
Jaringan Kekuasaan
Kekuatan para Opu tidak hanya terletak pada keberanian di medan perang. Mereka merajut kekuasaan lewat perkawinan dengan keluarga sultan, jabatan resmi yang diwariskan, dan penguasaan pelabuhan.
- Parani, Cellak, Menambun, dan Kemasi masing-masing menikahi perempuan dari lingkungan istana Johor, Matan, dan Sambas (lihat tabel di atas). Raja Lumu, putra Cellak, dinikahkan dengan kerabat Sultan Perak pada 1766, tahun yang sama ia dilantik sebagai Sultan Selangor.
- Jabatan turun-temurun. Jabatan Yang Dipertuan Muda diwariskan dalam lingkaran Bugis. Daeng Kemboja, putra Parani, menggantikan Cellak pada 1745 dan menjabat 29 tahun, lalu digantikan Raja Haji. Kemboja juga menciptakan jabatan wakil Engku Kelana.
- Di bawah Cellak, Riau tumbuh menjadi pelabuhan dan pusat perdagangan yang ramai. Raja Haji kemudian membesarkannya hingga menekan posisi Melaka yang dikuasai Belanda.
- Militer dan diplomasi. Para Opu juga dimintai bantuan menyelesaikan sengketa takhta di Matan dan di Kedah, dengan imbalan kedudukan dan gelar.
Selangor menjadi contoh paling jelas. Daeng Cellak menikahi saudari Sultan Sulaiman, dan putranya, Raja Lumu, diangkat sebagai Yamtuan Selangor pada 1743. Pada November 1766 Raja Lumu dilantik oleh Sultan Perak sebagai Sultan Selangor pertama.
Warisan yang Masih Terlihat
Jejak lima Opu bertahan lebih dari dua abad dan tersebar di tiga negara.
Raja Haji Fisabilillah. Ia putra langsung Daeng Cellak dan adik Raja Lumu, Yang Dipertuan Muda Riau keempat (1777–1784). Ia gugur pada 18 Juni 1784 di Teluk Ketapang, Melaka, saat menyerang kedudukan Belanda. Ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia dan dimakamkan di Pulau Penyengat, Tanjungpinang. Namanya kini dipakai untuk bandara di Tanjungpinang dan masjid di Cyberjaya, Selangor.
Raja Ali Haji. Cucu Raja Haji ini lahir pada 1808 dan dikenal sebagai penyair serta sejarawan. Karyanya, Tuhfat al-Nafis, menjadi salah satu sumber utama sejarah Johor-Riau. Karena ia sendiri keturunan Bugis, sumber ini perlu dibaca dengan kesadaran akan sudut pandangnya.
Sultan Salehuddin, putra Daeng Cellak, mendirikan wangsa yang masih memerintah. Pemegang takhta saat ini disebut sebagai Sultan Selangor ke-9, Sultan Sharafuddin Idris Shah, dari House of Opu Daeng Chelak.
Riau-Lingga. Jabatan Yang Dipertuan Muda bertahan hingga dihapus pada 1899, setelah wafatnya Yang Dipertuan Muda ke-10, Raja Muhammad Yusuf. Perjanjian Belanda 1784 sempat melarang adanya Yang Dipertuan Muda Bugis, tetapi kemudian jabatan itu dihidupkan lagi.
Kalimantan Barat. Menambun meninggalkan makam di Mempawah dan tradisi Robo-Robo setiap pekan terakhir Safar. Putrinya, Utin Cendramidi, menikah dengan Syarif Abdurrahman Alkadrie, pendiri Pontianak.
Setelah Sumpah Setia, keturunan Bugis lambat laun memakai gelar Melayu seperti Raja dan Engku. Karena itu kisah ini juga cerita tentang bagaimana Bugis menjadi bagian dari peradaban Melayu. (*)
