Opu Daeng Celak dan Raja Haji Fisabilillah: Bangsawan Luwu yang Membentuk Sejarah Dunia Melayu

“Jejak sejarah Kerajaan Luwu tidak hanya tertinggal di Sulawesi Selatan. Melalui diaspora bangsawan Bugis pada abad ke-18, pengaruh Luwu menjangkau Johor, Riau, Selangor, Pahang hingga Selat Malaka. Dari garis keturunan inilah lahir para negarawan, panglima perang, ulama, dan sastrawan yang membentuk wajah politik dunia Melayu selama lebih dari satu abad.”
_________________________________

DALAM historiografi Asia Tenggara, migrasi orang Bugis pada abad ke-18 dipandang sebagai salah satu peristiwa paling menentukan dalam perubahan peta politik kawasan maritim Nusantara.

Leonard Y. Andaya dalam The Kingdom of Johor 1641–1728 menjelaskan bahwa setelah berakhirnya Perang Makassar (1666–1669), muncul gelombang perpindahan bangsawan Bugis ke berbagai pusat perdagangan di Nusantara.

Namun, perpindahan itu tidak semata-mata disebabkan oleh kekalahan politik terhadap VOC dan Kerajaan Gowa. Tradisi massompe’—merantau untuk mencari kehormatan, penghidupan, dan kekuasaan—telah lama menjadi bagian dari budaya politik Bugis.

Di antara para perantau tersebut, tampil lima bangsawan Luwu yang kemudian mengubah sejarah dunia Melayu. Mereka dikenal sebagai Lima Opu Bersaudara, yakni:

Kelimanya merupakan putra Opu Daeng Rilakka, seorang bangsawan Bugis dari wilayah Luwu–Wajo yang memiliki hubungan genealogis dengan aristokrasi Bugis.

Dalam Tuhfat al-Nafis, Raja Ali Haji menggambarkan kelima bersaudara ini sebagai pemimpin yang memiliki keberanian luar biasa, mahir dalam strategi perang, serta memiliki kemampuan membangun jaringan politik lintas kerajaan.

Mereka datang ke Semenanjung Melayu bukan sebagai penakluk, melainkan sebagai kelompok aristokrat yang menawarkan stabilitas politik dan dukungan militer kepada kerajaan-kerajaan yang sedang mengalami konflik suksesi.

Makam Opu Daeng Celak
Makam Opu Daeng Celak (Foto: IST)

Lahirnya Kemitraan Bugis–Melayu

Pada awal abad ke-18, Kesultanan Johor berada dalam situasi yang sangat genting. Raja Kecil dari Siak berhasil merebut takhta Johor dan memaksa Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah mencari dukungan militer.

Menurut Andaya, bantuan Lima Opu Bugis menjadi titik balik sejarah Johor. Pasukan Bugis berhasil mengembalikan kekuasaan Sultan Sulaiman. Sebagai balas jasa, dibentuk jabatan baru yang belum pernah dikenal sebelumnya dalam tradisi politik Melayu, yakni Yang Dipertuan Muda.

Barbara Watson Andaya menyebut lahirnya institusi ini sebagai bentuk power-sharing yang unik. Sultan tetap menjadi simbol legitimasi dinasti Melayu, sedangkan Yang Dipertuan Muda menjalankan fungsi pemerintahan, diplomasi, keamanan, dan memimpin angkatan laut.

Virginia Matheson Hooker menjelaskan bahwa model pemerintahan ini kemudian menjadi fondasi stabilitas Kesultanan Johor–Riau–Lingga selama lebih dari satu abad.

Opu Daeng Celak: Yang Dipertuan Muda yang Membangun Riau

Setelah wafatnya Opu Daeng Marewah pada 1728, Opu Daeng Cellaq diangkat sebagai Yang Dipertuan Muda II.

Jika Marewah dikenal sebagai pendiri kekuasaan Bugis di Johor, maka Daeng Cellaq merupakan negarawan yang memperkokoh fondasi pemerintahan tersebut.

Melalui pernikahannya dengan Tengku Mandak, adik Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah, hubungan antara aristokrasi Bugis dan keluarga kerajaan Melayu berubah menjadi hubungan kekerabatan.

Perkawinan politik ini sangat penting. Dalam analisis Barbara Watson Andaya, legitimasi dinasti Bugis di Johor tidak semata dibangun melalui kemenangan militer, tetapi melalui integrasi sosial dengan keluarga kerajaan Melayu.

Di bawah kepemimpinannya, Riau berkembang menjadi pusat perdagangan internasional.

Menurut Tuhfat al-Nafis, pelabuhan Riau ramai disinggahi pedagang dari Bugis, Melayu, Minangkabau, Jawa, Tiongkok, India, Arab dan Eropa.

Daeng Cellaq mendorong pembukaan kebun lada hitam dan gambir yang menjadi komoditas ekspor utama kawasan Selat Malaka.

Andaya bahkan menyebut Riau sebagai salah satu pelabuhan bebas paling penting di Asia Tenggara jauh sebelum berdirinya Singapura pada 1819.

Dinasti yang Menguasai Johor-Riau Selama Lebih Satu Abad

Salah satu warisan terbesar Opu Daeng Cellaq bukanlah kemenangan militer, melainkan lahirnya dinasti Bugis-Riau. Hampir seluruh Yang Dipertuan Muda berikutnya merupakan keturunannya.

Urutannya adalah:

  • Opu Daeng Marewah (I)
  • Opu Daeng Cellaq (II)
  • Daeng Kamboja (III) — putra Opu Daeng Cellaq
  • Raja Haji Fisabilillah (IV) — putra Daeng Kamboja
  • Raja Ali
  • Raja Ja’afar
  • Raja Abdul Rahman
  • Raja Ali bin Raja Ja’afar
  • Raja Abdullah
  • Raja Muhammad Yusuf (XI)

Dengan demikian, Raja Haji Fisabilillah bukan putra Opu Daeng Cellaq, melainkan cucunya. Koreksi silsilah ini ditegaskan dalam Tuhfat al-Nafis dan diterima secara luas dalam historiografi modern.

Raja Haji Fisabilillah: Cucu Opu Daeng Celak yang Mengguncang VOC

Raja Haji lahir sekitar tahun 1727 sebagai putra Daeng Kamboja, Yang Dipertuan Muda III. Sejak muda ia dididik dalam tradisi Bugis yang menekankan keberanian, loyalitas, disiplin, dan kemampuan memimpin armada laut.

Tuhfat al-Nafis menggambarkannya sebagai pemimpin yang sangat berani, adil kepada rakyat, dekat dengan ulama, serta menjadi teladan bagi para panglima.

Setelah menjadi Yang Dipertuan Muda IV, Raja Haji berhasil memperkuat armada maritim Johor–Riau. Menurut Leonard Andaya, kekuatan laut Bugis di bawah Raja Haji merupakan satu-satunya kekuatan lokal yang benar-benar mampu menantang dominasi VOC di Selat Malaka.

Persaingan dengan VOC bukan sekadar perebutan wilayah, tetapi juga pertarungan mengenai siapa yang mengendalikan perdagangan internasional di Asia Tenggara.

VOC berusaha menerapkan monopoli perdagangan. Sebaliknya, Raja Haji mempertahankan prinsip perdagangan bebas yang selama berabad-abad menjadi ciri utama jaringan niaga Melayu dan Bugis.

Kompleks makam Raja Haji Fisabilillah
Kompleks makam Raja Haji Fisabilillah (Foto: IST)

Gugur di Teluk Ketapang

Pada tahun 1784 Raja Haji memimpin sendiri ekspedisi besar menyerang Melaka. Dalam pertempuran di Teluk Ketapang pada 18 Juni 1784, beliau gugur bersama sejumlah panglima Bugis.

Tuhfat al-Nafis menggambarkan peristiwa ini sebagai kehilangan terbesar Kesultanan Johor–Riau. Jenazah beliau kemudian dipindahkan ke Pulau Penyengat oleh Raja Ja’afar. Makamnya hingga kini menjadi salah satu situs sejarah terpenting di Kepulauan Riau.

Melalui Keputusan Presiden RI Nomor 072/TK Tahun 1997, Raja Haji Fisabilillah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, pengakuan atas perannya dalam melawan ekspansi kolonial Belanda dan mempertahankan kedaulatan maritim Nusantara.

Warisan Intelektual Dinasti Opu Daeng Celak

Pengaruh dinasti Opu Daeng Celak tidak berhenti pada bidang politik dan militer. Dari garis keturunan ini lahir Raja Ali Haji (1808–1873), cicit Opu Daeng Cellaq melalui Raja Ahmad bin Raja Haji Fisabilillah.

Raja Ali Haji dikenal sebagai ulama, sejarawan, dan sastrawan besar Melayu yang menyusun Gurindam Dua Belas, Kitab Pengetahuan Bahasa, dan menyelesaikan Tuhfat al-Nafis. Atas jasanya dalam pengembangan bahasa Melayu yang kemudian menjadi dasar bahasa Indonesia modern, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2004.

Dengan demikian, dinasti ini melahirkan tiga tipe kepemimpinan sekaligus: negarawan yang membangun institusi pemerintahan (Opu Daeng Cellaq), panglima yang mempertahankan kedaulatan maritim (Raja Haji Fisabilillah), dan intelektual yang membentuk fondasi kebudayaan Melayu modern (Raja Ali Haji).

Ketum KKLR Arsyad Kasmar dan rombongan saat ziarah ke makam Raja Haji Fisabilillah
Ketum BPP KKLR Arsyad Kasmar dan rombongan saat berziarah ke makam Raja Haji Fisabilillah (Foto: IST)

Penilaian Para Sejarawan

Jika ditelaah secara komparatif, terdapat benang merah dalam karya Leonard Y. Andaya, Barbara Watson Andaya, Virginia Matheson Hooker, dan Raja Ali Haji. Mereka sama-sama menunjukkan bahwa kebangkitan Johor–Riau pada abad ke-18 tidak dapat dipahami tanpa peran elite Bugis. Namun, penekanannya berbeda-beda.

Leonard Y. Andaya melihat kedatangan Bugis sebagai transformasi geopolitik yang mengubah keseimbangan kekuatan di Asia Tenggara maritim. Barbara Watson Andaya menekankan keberhasilan elite Bugis membangun legitimasi melalui aliansi politik dan perkawinan dengan dinasti Melayu.

Virginia Matheson Hooker memperlihatkan bagaimana sintesis budaya Bugis dan Melayu melahirkan tradisi intelektual yang berpuncak pada karya-karya Raja Ali Haji. Sementara itu, Tuhfat al-Nafis menghadirkan perspektif orang dalam (insider account) yang merekam kebesaran, konflik, dan nilai-nilai yang hidup di lingkungan istana Riau-Lingga.

Melalui lensa historiografi tersebut, Opu Daeng Celak (Cellaq) tidak lagi dipahami hanya sebagai seorang pejabat kerajaan, melainkan sebagai tokoh sentral yang meletakkan fondasi sebuah dinasti transregional.

Warisannya menjangkau bidang politik, ekonomi, militer, sastra, dan bahasa, serta menjadi bukti bahwa kontribusi bangsawan Bugis dari Luwu telah membentuk sejarah dunia Melayu jauh melampaui batas geografis Sulawesi Selatan.

Dengan perspektif ini, kisah Opu Daeng Celak dan Raja Haji Fisabilillah bukan sekadar sejarah keluarga, tetapi bagian penting dari sejarah pembentukan identitas politik dan kebudayaan Nusantara. (*)

Referensi

  • Andaya, Barbara Watson, dan Leonard Y. Andaya. A History of Malaysia. Edisi ke-2. Honolulu: University of Hawai’i Press, 2001.
  • Andaya, Leonard Y. The Kingdom of Johor, 1641–1728: Economic and Political Developments. Kuala Lumpur: Oxford University Press, 1975. Buku ini berasal dari disertasi doktoralnya di Cornell University dan menjadi salah satu rujukan utama mengenai perkembangan politik dan ekonomi Johor-Riau abad ke-17 hingga awal abad ke-18.
  • Barnard, Timothy P. Multiple Centres of Authority: Society and Environment in Siak and Eastern Sumatra, 1674–1827. Leiden: KITLV Press, 2003.
  • Hooker, Virginia Matheson. Tuhfat al-Nafis: Sejarah Melayu-Islam. Terjemahan dan kajian atas karya Raja Ali Haji. Kuala Lumpur: Fajar Bakti, 1991.
  • Matheson, Virginia. “Concepts of Malay Ethos in Indigenous Malay Writings.” Dalam Indonesia, No. 47 (1989): 1–23.
  • Milner, Anthony C. Kerajaan: Malay Political Culture on the Eve of Colonial Rule. Tucson: University of Arizona Press, 1982.
  • Raja Ali Haji. Tuhfat al-Nafis. Disunting dan diterjemahkan oleh Virginia Matheson Hooker. Kuala Lumpur: Fajar Bakti, 1991.
  • Trocki, Carl A. Prince of Pirates: The Temenggongs and the Development of Johor and Singapore, 1784–1885. Singapore: NUS Press, 2007.
  • Winstedt, R. O. A History of Johore (1365–1941). Kuala Lumpur: Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society, 1992 (cetakan ulang).
  • Wolters, O. W. Early Indonesian Commerce: A Study of the Origins of Srivijaya. Ithaca: Cornell University Press, 1967.
  • Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 072/TK Tahun 1997 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional kepada Raja Haji Fisabilillah.
  • Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Raja Haji Fisabilillah (Ensiklopedia Pahlawan Nasional dan profil tokoh sejarah).