KKLR Sulsel Ajak Pj Gubernur Bahtiar Bedah Sejarah Sulsel pada Peringatan HPRL 2024

KKLR Sulsel Ajak Pj Gubernur Bahtiar Bedah Sejarah Sulsel pada Peringatan HPRL 2024

MAKASSAR – Badan Pengurus Wilayah (BPW) Kerukunan Keluarga Luwu Raya (KKLR) Sulawesi Selatan mengundang Penjabat (Pj) Gubernur Sulawesi Selatan, Bahtiar Baharuddin, untuk menjadi narasumber pada Malam Ramah Tamah Peringatan Hari Perlawanan Rakyat Luwu (HPRL) yang digelar di Makassar, 13 Januari 2024.

Undangan tersebut disampaikan langsung Ketua BPW KKLR Sulsel, Hasbi Syamsu Ali, saat bertemu Bahtiar Baharuddin di Makassar, 2 Januari 2024.

Menurutnya, pemahaman Bahtiar mengenai sejarah Sulawesi Selatan, sejarah nasional, hingga sejarah dunia dinilai dapat memberikan perspektif yang lebih luas kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

“Kami mengundang Bapak Gubernur untuk hadir dalam acara ramah tamah tersebut. Kami berharap beliau dapat berbagi pemikiran mengenai sejarah Sulawesi Selatan sebagai bagian dari upaya memperkuat pemahaman sejarah dan semangat kebangsaan masyarakat,” ujar Hasbi.

Ia menjelaskan, peringatan Hari Perlawanan Rakyat Luwu tidak hanya menjadi momentum mengenang perjuangan para pejuang Luwu dalam mempertahankan kemerdekaan, tetapi juga menjadi ruang edukasi sejarah sekaligus mempererat persatuan masyarakat Luwu Raya.

Rangkaian kegiatan HPRL diawali dengan senam sehat dan pemeriksaan kesehatan gratis pada pelaksanaan Car Free Day di Jalan Jenderal Sudirman, Makassar, kemudian dilanjutkan dengan malam ramah tamah pada 13 Januari 2024. Sementara puncak peringatan dilaksanakan di Kabupaten Luwu Timur pada 23 Januari 2024.

Menanggapi undangan tersebut, Bahtiar Baharuddin menyampaikan pandangannya mengenai posisi penting masyarakat Sulawesi Selatan dalam sejarah perjuangan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Menurutnya, masyarakat Sulawesi Selatan, termasuk rakyat Luwu, memiliki rekam jejak panjang dalam menjaga keutuhan Indonesia sejak masa awal kemerdekaan.

“Betapa masyarakat Luwu dan Sulawesi Selatan menunjukkan kesetiaan yang luar biasa kepada NKRI. Ketika Belanda berupaya menggagalkan pengakuan kemerdekaan Indonesia di forum internasional, rakyat Indonesia tetap mempertahankan semangat perjuangan melalui berbagai cara, termasuk melalui siaran Radio Republik Indonesia,” katanya.

Bahtiar juga mengungkapkan dirinya memiliki kedekatan dengan kajian sejarah perjuangan nasional. Ia mengaku terlibat dalam penyusunan Peraturan Pemerintah Nomor 67 Tahun 2014 sebagai aturan pelaksana Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2012 tentang Veteran Republik Indonesia.

“Saya memahami sejarah Hari Perlawanan karena terlibat dalam proses penyusunan regulasi mengenai veteran. Karena itu, saya melihat pentingnya upaya mendokumentasikan dan mengkaji kembali sejarah perjuangan masyarakat di berbagai daerah, termasuk Luwu,” ujarnya.

Ia mendorong KKLR untuk mengambil peran lebih besar dalam menggali dan mendokumentasikan sejarah masyarakat Luwu, termasuk tradisi merantau masyarakat Sulawesi Selatan yang telah berlangsung sejak masa lampau.

Menurut Bahtiar, kajian tersebut tidak hanya penting untuk memperkaya khazanah sejarah daerah, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat identitas budaya serta mempererat hubungan antarsesama warga Luwu yang kini tersebar di berbagai wilayah Indonesia maupun mancanegara.

Melalui peringatan Hari Perlawanan Rakyat Luwu, BPW KKLR Sulsel berharap nilai-nilai perjuangan, patriotisme, dan persatuan yang diwariskan para pendahulu dapat terus diwariskan kepada generasi muda sebagai fondasi dalam membangun daerah dan menjaga keutuhan bangsa. (*)