Hasbi Syamsu Ali, Lokomotif Gerakan Provinsi Luwu Raya di Sulawesi Selatan

Ir Hasbi Syamsu Ali Ketua BPW KKLR Sulsel

PERJUANGAN pembentukan Provinsi Luwu Raya bukan tidak pernah kekurangan semangat. Yang paling sering menjadi tantangan justru bagaimana menyatukan energi dari begitu banyak elemen yang terlibat—pemerintah daerah, DPRD, akademisi, tokoh adat, organisasi masyarakat, hingga diaspora Wija To Luwu yang tersebar di berbagai daerah.

Di tengah kebutuhan itu, nama Ir. Hasbi Syamsu Ali bisa dipandang sebagai salah satu figur yang memainkan peran penting.

Sebagai Ketua Badan Pengurus Wilayah Kerukunan Keluarga Luwu Raya (BPW KKLR) Sulawesi Selatan sekaligus Koordinator Wilayah Badan Pekerja Pembentukan Daerah Otonom Baru (BPP DOB) Provinsi Luwu Raya di Sulsel, Hasbi tidak hanya mengawal administrasi perjuangan.

Ia memilih turun langsung membangun komunikasi, mempertemukan para pemangku kepentingan, dan memastikan perjuangan tetap bergerak dalam satu arah.

Ketua BPW KKLR Sulsel Ir Hasbi Syamsu Ali dan Ketua Umum BPP KKLR H Arsyad Kasmar di Jakarta
Ketua BPW KKLR Sulsel Ir Hasbi Syamsu Ali dan Ketua Umum BPP KKLR H Arsyad Kasmar pada sebuah pertemuan di Jakarta (Foto: IST)

Merawat Api yang Tak Pernah Padam

Bagi Hasbi, perjuangan pembentukan Provinsi Luwu Raya bukanlah agenda yang lahir kemarin sore. Ini merupakan cita-cita panjang masyarakat Tana Luwu yang telah diperjuangkan lintas generasi.

Karena itu, tugas generasi sekarang bukan memulai perjuangan baru, melainkan menjaga agar api perjuangan itu tidak pernah padam.

Prinsip itulah yang terlihat dalam setiap langkah yang ia lakukan selama beberapa tahun terakhir.

Hasbi berulang kali mengingatkan bahwa perjuangan pemekaran tidak boleh berubah menjadi ruang perdebatan yang melemahkan persatuan. Sebaliknya, seluruh energi masyarakat harus diarahkan pada tujuan bersam untuk memperkuat argumentasi, memenuhi persyaratan konstitusional, dan menjaga kekompakan seluruh Wija To Luwu.

Menyatukan Simpul-Simpul Perjuangan

Awal 2026 menjadi salah satu periode paling sibuk dalam perjalanan Hasbi Syamsu Ali. Selama hampir tiga bulan, ia memimpin langsung rangkaian konsolidasi ke seluruh wilayah calon Provinsi Luwu Raya.

Mulai dari Belopa, Palopo, Masamba hingga Malili, Hasbi bersama tim BPP DOB menemui Bupati Luwu, Wali Kota Palopo, Bupati Luwu Utara, Bupati Luwu Timur, serta Datu Luwu. Misi yang dibawa bukan sekadar silaturahmi, tetapi membangun kesamaan langkah dan melengkapi seluruh kebutuhan administratif menuju pembentukan provinsi baru.

BPP DOB Provinsi Luwu Raya silaturahmi bersama Datu Luwu XL di Istana Kedatuan Luwu Palopo, 8 April 2026.
Tim BPP DOB Provinsi Luwu Raya dipimpin Hasbi Syamsu Ali, bersilaturahmi dengan Datu Luwu XL di Istana Kedatuan Luwu Palopo, 8 April 2026.

Ketika rangkaian itu selesai, Hasbi menyebut satu fase penting telah dituntaskan.

Semua agenda ini dilakukan untuk konsolidasi perjuangan pembentukan Provinsi Luwu Raya, termasuk menuntaskan dokumen-dokumen administratif yang dibutuhkan dari setiap kepala daerah di Luwu Raya,” ujarnya.

Di balik kalimat itu tersimpan pekerjaan yang tidak sederhana. Membangun kesamaan pandangan di antara berbagai institusi memerlukan kesabaran, komunikasi, dan kemampuan menjaga kepercayaan semua pihak.

Mengubah Narasi Perjuangan

Peran Hasbi tidak berhenti pada konsolidasi organisasi. Ia juga menjadi salah satu pengusung perubahan paradigma perjuangan.

Jika sebelumnya pembentukan Provinsi Luwu Raya lebih banyak dipromosikan melalui argumentasi rentang kendali pemerintahan dan pemerataan pelayanan publik, Hasbi mendorong agar narasi diperluas menjadi kepentingan strategis nasional.

Menurutnya, Luwu Raya bukan hanya layak menjadi provinsi baru karena memenuhi syarat administratif, tetapi juga karena memiliki posisi penting dalam agenda pembangunan Indonesia sebagai kawasan hilirisasi mineral, lumbung pangan, pusat pertumbuhan ekonomi kawasan timur, hingga wilayah yang strategis dari sisi pertahanan dan konektivitas.

Karena itu, Hasbi mendorong dan memfasilitasi penyusunan summary dari dua naskah akademik Provinsi Luwu Raya, baik yang disusun oleh Unanda maupun oleh Institute Otonomi Daerah (IOTDA) agar perjuangan Luwu Raya memiliki beberapa opsi strategis.

Cara pandang inilah yang kemudian menjadi fondasi penyusunan kajian akademik bersama tim Universitas Andi Djemma Palopo sebelum dipresentasikan kepada Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. Dudung Abdurachman di Jakarta pada Juli 2026.

Ketua BPW KKLR Sulsel Hasbi Syamsu Ali bersama KSP Jenderal Purn Dudung Abdurachman
Ir. Hasbi Syamsu Ali bersama KSP Jenderal TNI Purn Dudung Abdurachman di Jakarta, Selasa (14/7/2026).

Lokomotif di Sulawesi Selatan

Jika Arsyad Kasmar banyak mengonsolidasikan jejaring diaspora di tingkat nasional dan Darwis Ismail memimpin orkestrasi perjuangan BPP DOB, maka Hasbi menjadi lokomotif yang menjaga agar mesin perjuangan tetap bergerak khususnya di Sulawesi Selatan.

Ia aktif menjalin komunikasi dengan pemerintah daerah, tokoh adat, organisasi kemasyarakatan, akademisi, hingga komunitas Wija To Luwu.

Di saat yang sama, sebagai Ketua BPW KKLR Sulawesi Selatan, ia juga mengarahkan organisasi untuk tetap menjadi ruang pemersatu yang mengedepankan kepentingan bersama di atas perbedaan.

Bagi Hasbi, keberhasilan perjuangan tidak akan ditentukan oleh satu tokoh. Yang menentukan adalah kemampuan seluruh elemen bergerak dalam satu irama.

Ketua BPW KKLR Sulsel Ir Hasbi Syamsu Ali bersama Sekretaris BPW KKLR Sulsel, Asri Tadda
Ketua BPW KKLR Sulsel Ir Hasbi Syamsu Ali bersama Sekretaris BPW KKLR Sulsel, Asri Tadda kompak dengan salam ‘L’ khas Luwu Raya (Foto: IST)

Perjuangan Masih Berjalan

Dukungan Kepala Staf Kepresidenan terhadap perjuangan Provinsi Luwu Raya menjadi salah satu pencapaian penting yang lahir dari proses panjang konsolidasi.

Namun bagi Hasbi, perjuangan belum selesai. Masih ada proses konstitusional yang harus dikawal, komunikasi yang harus terus dibangun, dan persatuan masyarakat yang harus tetap dijaga.

Karena itulah, ia terus mengajak seluruh Wija To Luwu untuk mengedepankan semangat kebersamaan.

Baginya, Provinsi Luwu Raya bukan sekadar tujuan politik atau administratif. Ia adalah cita-cita bersama tentang bagaimana menghadirkan pemerintahan yang lebih efektif, mempercepat pembangunan, dan memastikan potensi besar Tana Luwu dapat dikelola sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat.

Di situlah peran Hasbi Syamsu Ali menemukan maknanya. Bukan sekadar sebagai pengurus organisasi atau koordinator perjuangan, melainkan sebagai lokomotif yang terus menjaga agar gerbong panjang perjuangan Luwu Raya tetap bergerak menuju tujuan yang sama. (*)