Bagi H. Arsyad Kasmar, Kerukunan Keluarga Luwu Raya bukan sekadar organisasi paguyuban. Di tangannya, KKLR diarahkan menjadi rumah besar bagi Wija To Luwu di mana pun mereka berada, sekaligus jembatan yang menghubungkan kekuatan diaspora dengan masa depan Tana Luwu.
Di sebuah rumah di kawasan Bambu Apus Jakarta Timur, pintu hampir tak pernah benar-benar sepi.
Silih berganti tamu datang. Ada kepala daerah, anggota DPR, akademisi, tokoh adat, pengusaha, mahasiswa, hingga perantau asal Tana Luwu yang sekadar ingin bersilaturahmi. Pembicaraan mereka beragam, tetapi hampir selalu bermuara pada satu tema: bagaimana membawa Luwu Raya melangkah lebih maju.
Rumah itu bukan kantor resmi sebuah organisasi. Namun dalam beberapa tahun terakhir, tempat itulah yang kerap menjadi ruang bertemunya berbagai gagasan tentang masa depan Luwu Raya.
Di sana pula, H. Arsyad Kasmar menjalankan salah satu peran yang paling melekat pada dirinya, yakni menjadi poros dan menyatukan diaspora Wija to Luwu.

Dari Penggembala Ternak ke Dunia Usaha
Perjalanan hidup Arsyad Kasmar jauh dari gambaran seorang pengusaha yang lahir dalam kemapanan.
Lahir di Palopo pada 10 Oktober 1958 dan tumbuh di Baebunta, Luwu Utara, ia menghabiskan masa kecilnya di lingkungan pedesaan.
Dalam berbagai kesempatan, Arsyad kerap mengenang masa ketika membantu keluarga menggembala ternak dan menjalani kehidupan sederhana. Pengalaman itu membentuk karakter pantang menyerah yang kemudian menjadi bekal saat merantau membangun usaha.
Berbekal ketekunan, ia perlahan membangun kelompok usaha yang bergerak di berbagai sektor. Jejaring bisnisnya berkembang hingga tingkat nasional, termasuk kemitraan investasi di bidang pertambangan dan pengolahan mineral. Namun, di tengah kesibukan sebagai pengusaha, hubungan dengan tanah kelahirannya tidak pernah terputus.
“Kalau kampung halaman tidak maju, keberhasilan pribadi tidak akan pernah terasa lengkap,” menjadi prinsip yang kerap disampaikan kepada orang-orang terdekatnya.
Memimpin Rumah Besar Wija To Luwu
Titik penting perjalanan Arsyad datang ketika ia dipercaya memimpin Badan Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Luwu Raya (BPP KKLR) pada 2022. Baginya, KKLR bukan sekadar organisasi paguyuban yang mempertemukan sesama perantau.

Organisasi itu harus menjadi ruang yang memperkuat persaudaraan, memperluas jejaring, sekaligus menghadirkan kontribusi nyata bagi pembangunan Tana Luwu.
Karena itu, sejak awal kepemimpinannya, Arsyad mendorong agar KKLR menjadi wadah pemersatu seluruh Wija To Luwu, tanpa membedakan latar belakang profesi, pilihan politik, maupun daerah asal di empat wilayah Tana Luwu.
Di bawah kepemimpinannya, komunikasi antara diaspora dengan pemerintah daerah, kalangan akademisi, dunia usaha, dan tokoh masyarakat semakin intensif. Ia meyakini bahwa kekuatan terbesar masyarakat Luwu bukan hanya terletak pada sumber daya alamnya, tetapi juga pada modal sosial yang dimiliki warganya di berbagai daerah.
Menyatukan Kekuatan untuk Sebuah Cita-cita
Peran sebagai pemersatu itu terlihat semakin nyata ketika perjuangan pembentukan Provinsi Luwu Raya kembali menemukan momentumnya.
Arsyad tidak menempatkan KKLR sebagai organisasi yang mengambil alih perjuangan Badan Pekerja Pembentukan Daerah Otonom Baru (BPP DOB). Sebaliknya, ia memilih menjadikan KKLR sebagai rumah besar yang mempertemukan berbagai elemen agar bergerak dalam irama yang sama.
Ketika BPP DOB menyusun langkah-langkah strategis, KKLR memperkuat dukungan organisasi. Saat akademisi menyiapkan kajian ilmiah, KKLR membuka ruang kolaborasi. Ketika komunikasi dengan pemerintah pusat dibutuhkan, jejaring diaspora menjadi salah satu kekuatan yang ikut menopang perjuangan.
Bagi Arsyad, keberhasilan perjuangan pembentukan Provinsi Luwu Raya tidak mungkin ditentukan oleh satu organisasi atau satu tokoh.
“Perjuangan ini adalah perjuangan kolektif seluruh masyarakat Tana Luwu,” demikian pesan yang berulang kali ia sampaikan dalam berbagai kesempatan.

Diplomasi dalam Senyap
Di balik berbagai agenda besar, Arsyad lebih sering bekerja tanpa banyak sorotan. Ia memilih membangun komunikasi, mempertemukan pihak-pihak yang memiliki kepentingan sama, dan menjaga agar semangat perjuangan tetap berada dalam koridor persatuan.
Peran itu terlihat jelas ketika delegasi BPP DOB Provinsi Luwu Raya melakukan audiensi dengan Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. Dudung Abdurachman pada 14 Juli 2026.
Arsyad hadir sebagai Ketua Umum BPP KKLR mendampingi tim yang dipimpin H. Darwis Ismail. Padahal sehari-hari, ia dan Dudung adalah rekan bisnis.
Bagi Arsyad, keberhasilan pertemuan tersebut bukan sekadar karena adanya dukungan dari pemerintah pusat. Yang lebih penting adalah semakin terbukanya ruang dialog mengenai masa depan Luwu Raya melalui pendekatan kepentingan strategis nasional.
Rumah yang Selalu Terbuka
Mereka yang mengenal Arsyad sering menggambarkannya sebagai sosok yang mudah menerima siapa saja.
Rumahnya di Jakarta kerap menjadi tempat berkumpul warga Luwu dari berbagai profesi dan generasi. Tidak sedikit mahasiswa, tokoh masyarakat, hingga pejabat daerah yang menjadikannya sebagai tempat berdiskusi ketika berada di ibu kota.
Kebiasaan itu bukan sekadar tradisi menerima tamu. Bagi Arsyad, membangun daerah dimulai dengan membangun kepercayaan antarsesama anak daerah.
Karena itulah, ia percaya bahwa diaspora memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar menjadi perantau yang sukses di kota lain. Diaspora adalah jembatan pengetahuan, jejaring, investasi, dan gagasan yang suatu saat harus kembali memberi manfaat bagi tanah asalnya.
Menjaga Api Perjuangan
Di usia yang tidak lagi muda, Arsyad masih memilih menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengurus organisasi dan mengawal perjuangan masyarakat Tana Luwu.
Baginya, pembentukan Provinsi Luwu Raya bukan hanya tentang hadirnya satu daerah administratif baru. Lebih dari itu, ia melihatnya sebagai jalan untuk mempercepat pemerataan pembangunan, mendekatkan pelayanan publik, dan membuka peluang yang lebih besar bagi generasi mendatang.
Perjalanan itu tentu belum selesai. Namun selama semangat persaudaraan Wija To Luwu tetap terjaga, Arsyad Kasmar percaya bahwa cita-cita tersebut akan terus hidup.
Sebab pada akhirnya, menurutnya, sebuah daerah tidak dibangun oleh seorang tokoh. Ia dibangun oleh masyarakatnya yang mampu bersatu, menjaga identitas, dan bekerja bersama demi masa depan yang sama. (*)

