Hasbi Syamsu Ali: Arifin Junaidi Tinggalkan Warisan Pengabdian untuk Luwu Raya

Ketua BPW KKLR Sulsel, Ir. Hasbi Syamsu Ali, MM

MAKASSAR — Ketua Badan Pengurus Wilayah Kerukunan Keluarga Luwu Raya (BPW KKLR) Sulawesi Selatan, Ir. Hasbi Syamsu Ali, MM, menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya H. Arifin Junaidi, mantan Bupati Luwu Utara periode 2010–2015 yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina BPW KKLR Sulsel.

Menurut Hasbi, kepergian Arifin Junaidi merupakan kehilangan besar, bukan hanya bagi keluarga dan masyarakat Kabupaten Luwu Utara, tetapi juga bagi seluruh warga Luwu Raya yang selama ini mengenalnya sebagai birokrat, pemimpin daerah, dan tokoh pemersatu.

“Atas nama pribadi dan keluarga besar BPW KKLR Sulawesi Selatan, kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas wafatnya Bapak H. Arifin Junaidi. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah beliau, mengampuni segala khilafnya, serta memberikan ketabahan kepada keluarga yang ditinggalkan,” ujar Hasbi, Selasa (7/7/2026).

Hasbi menilai Arifin Junaidi telah meninggalkan warisan pengabdian yang akan terus dikenang masyarakat Luwu Raya. Baginya, sosok yang akrab disapa Arjuna itu merupakan figur yang mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk membangun daerah dan memperkuat persaudaraan masyarakat Luwu Raya.

“Beliau bukan hanya pernah menjadi bupati, tetapi juga seorang birokrat tulen yang memahami pemerintahan dari bawah. Pengabdian beliau berlangsung sangat panjang, mulai sebagai aparatur sipil negara, kemudian menjadi Wakil Bupati, Bupati Luwu Utara, hingga tetap aktif membina masyarakat melalui KKLR. Warisan pengabdian seperti inilah yang patut menjadi teladan bagi generasi penerus,” katanya.

Menurut Hasbi, di lingkungan KKLR Sulsel, Arifin Junaidi dikenal sebagai pembina yang selalu memberikan pandangan, nasihat, dan motivasi kepada pengurus. Meski telah menyelesaikan masa jabatannya sebagai kepala daerah, semangatnya untuk berkontribusi bagi kemajuan Luwu Raya tidak pernah surut.

“Beliau selalu hadir ketika organisasi membutuhkan masukan. Cara beliau menyatukan berbagai pandangan, menjaga silaturahmi, dan memikirkan masa depan Luwu Raya merupakan keteladanan yang sangat berharga. KKLR kehilangan seorang tokoh yang penuh kebijaksanaan,” ujarnya.

Arifin Junaidi meninggal dunia di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar, Selasa (7/7/2026), setelah hampir satu tahun menjalani perawatan akibat komplikasi penyakit. Ia wafat pada usia 73 tahun.

Lahir di Kecamatan Sabbang pada 17 Agustus 1952, Arifin memulai karier sebagai aparatur sipil negara dan dipercaya mengemban berbagai jabatan strategis, di antaranya Camat Malangke dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Luwu Utara.

Pengalaman panjang di birokrasi mengantarkannya menjadi Wakil Bupati Luwu Utara periode 2005–2009 mendampingi Luthfi Andi Mutty. Ia kemudian dipercaya memimpin daerah pada masa transisi sebelum terpilih sebagai Bupati Luwu Utara periode 2010–2015 berpasangan dengan Indah Putri Indriani.

Selama memimpin Luwu Utara, Arifin dikenal mendorong pembangunan infrastruktur, peningkatan pelayanan publik, penguatan sektor pertanian, serta pembenahan tata kelola pemerintahan. Pengalaman pengabdiannya juga dituangkan dalam autobiografi berjudul Birokrat Tahan Banting, yang mencerminkan perjalanan panjangnya sebagai aparatur negara.

Selain aktif di pemerintahan, Arifin juga pernah memimpin DPD Partai Golkar Kabupaten Luwu Utara. Di lingkungan BPW KKLR Sulsel, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina dan menjadi salah satu tokoh senior yang konsisten memberikan arahan bagi penguatan organisasi.

Hasbi mengajak seluruh pengurus dan warga KKLR untuk melanjutkan semangat pengabdian yang telah dicontohkan almarhum.

“Kepergian beliau tentu meninggalkan duka yang mendalam. Namun nilai-nilai yang beliau wariskan—integritas, kerja keras, kepedulian terhadap masyarakat, dan komitmen menjaga persatuan warga Luwu Raya—harus terus kita rawat. Itulah warisan terbesar yang ditinggalkan almarhum bagi daerah dan organisasi ini,” tutup Hasbi.

Jenazah almarhum diberangkatkan dari Makassar menuju rumah duka di Desa Pombaniki, Kecamatan Sabbang Selatan, Kabupaten Luwu Utara, untuk disemayamkan sebelum dimakamkan. Kepergiannya meninggalkan duka bagi masyarakat Luwu Utara sekaligus keluarga besar KKLR Sulawesi Selatan. (*)