Silatnas Wija To Luwu II, Ketua KKLR Arsyad Kasmar Serukan Persatuan demi Provinsi Luwu Raya

Datu Luwu dan Arsyad Kasmar

PALOPO — Puluhan tokoh masyarakat Tanah Luwu menghadiri Silaturahmi Nasional (Silatnas) Wija To Luwu II yang digelar di Aula Ratona Kantor Wali Kota Palopo, Selasa (20/1/2026).

Kegiatan ini dirangkaikan dengan seminar nasional yang diselenggarakan Yayasan To Ciung Universitas Andi Djemma (Unanda) Palopo.

Salah satu tokoh yang hadir adalah Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) Kerukunan Keluarga Luwu Raya (KKLR), H. Arsyad Kasmar.

Dalam sambutannya, ia menyerukan persatuan seluruh Wija To Luwu sebagai kunci utama mewujudkan cita-cita besar masyarakat Tanah Luwu, khususnya pembentukan Provinsi Luwu Raya.

Menurut Arsyad, selama seluruh elemen masyarakat mampu bersatu, tidak ada hal yang mustahil untuk dicapai.

“Kuncinya, asal kita bersatu, jadi barang itu Provinsi Luwu Raya,” tegasnya di hadapan tokoh adat, kepala daerah, mahasiswa, serta diaspora Luwu Raya dari berbagai daerah di Indonesia.

Ia juga menyapa langsung perwakilan perantau Luwu Raya yang hadir dari Papua, Kalimantan, Batam, Sulawesi Tengah, hingga Sulawesi Selatan. Kehadiran mereka, kata Arsyad, menjadi bukti bahwa kekuatan Luwu Raya tersebar luas di seluruh Nusantara, namun masih membutuhkan satu barisan perjuangan yang solid.

“Kalau ini masih gagal, saya tidak yakin Luwu Raya bisa menjadi provinsi,” ujarnya lugas.

Arsyad menyoroti banyaknya kader Wija To Luwu yang berhasil menempati posisi strategis, baik sebagai birokrat, politisi, maupun pengusaha nasional. Hal tersebut, menurutnya, menunjukkan kualitas sumber daya manusia Luwu Raya yang unggul dan kompetitif.

Namun, ia mengingatkan bahwa kecerdasan dan kekuatan ekonomi tidak akan bermakna tanpa persatuan.

“Maega to macca polle Tanah Luwu. Yang susah itu bersatunya,” tuturnya.

Ia juga menyinggung peran sejumlah tokoh senior Luwu Raya yang telah mengabdi di berbagai bidang. Meski demikian, tantangan utama yang masih dihadapi adalah menyatukan visi, kepentingan, dan langkah bersama.

Lebih lanjut, Arsyad menegaskan bahwa perjuangan Luwu Raya tidak boleh terkotak oleh perbedaan agama, etnis, maupun latar belakang politik. Seluruh masyarakat, baik Toraja, Bugis, Jawa, maupun etnis lainnya, disebut sebagai bagian utuh dari Luwu Raya.

“Apapun agamamu, apapun etnismu, ayo bangkit. Ini bukan untuk kita, tapi untuk keturunan kita ke depan,” serunya.

Ia juga memberikan perhatian khusus kepada generasi muda dan mahasiswa agar bersiap mengambil estafet kepemimpinan. Menurutnya, regenerasi kepemimpinan harus terus didorong demi keberlanjutan perjuangan Luwu Raya.

Pertemuan ini semakin bermakna dengan kehadiran Yang Mulia Datu Luwu yang turun langsung dalam agenda perjuangan.

Kehadiran tokoh adat tersebut dinilai sebagai momentum penting dalam memperkuat sinergi antara unsur adat, organisasi, mahasiswa, dan masyarakat akar rumput.

“Sekarang semua unsur ada: adat, KKLR, mahasiswa, dan akar rumput. Kalau ini masih gagal, ai masussa pole’,” ucap Arsyad.

Menanggapi isu pendanaan perjuangan, Arsyad menegaskan bahwa faktor utama bukanlah uang, melainkan persatuan.

Ia menyebut banyak pengusaha asal Luwu Raya siap berkontribusi jika perjuangan dijalankan dengan niat tulus dan tujuan bersama.

“Asal kita bersatu, uang itu akan datang sendiri,” katanya.

Di akhir sambutan, Arsyad menantang seluruh elemen KKLR untuk menyatakan kesiapan mengemban tugas perjuangan pemekaran. Tantangan tersebut dijawab serentak oleh hadirin dengan teriakan, “Siap!”

Ia kemudian menutup sambutannya dengan pesan kepada para perantau agar tetap membawa semangat perjuangan Luwu Raya di mana pun berada.

“Selamat berjuang mencari rezeki yang baik untuk generasi kita. Dan mohon maaf jika ada kekhilafan,” pungkasnya. (*)